SILENT LOVE
(PART 2)
Pukul 7 lewat 38 menit ditunjukkan oleh jarum jam yang terpasang pas di salah satu sudut ruang tamu rumah Arisa. Hari cerah seperti biasa, namun Arisa tetap terlihat murung sambil duduk di sebuah kursi kecil yang berada di teras depan rumahnya. Ini adalah hari pertamanya berada ditempat yang berbeda, karena Ayahnya dipindah tugaskan. Sementara ibunya masih sibuk membenahi perabotan rumah mereka yang baru sambil sesekali memandangi Arisa.
“Yah, sebenarnya Ibu kasihan sama Arisa. Sepertinya Arisa benar-benar sedih meninggalkan sahabat-sahabatnya.” Kata Ibu Arisa kepada suaminya yang sedang asik membaca koran di sofa yang tepat berada sampingnya.
“Sudahlah Bu’. Arisa kan sudah besar. Jadi Ayah pikir, dia sudah bisa menangani masalah hatinya.” Balas Ayah kepada Ibu yang kemudian mengambil posisi duduk di samping suaminya sambil membersihkan guci kecil yang ada digenggamannya dengan sebuah kain lap berwarna merah.
“Yah, . . . Arisa anak satu-satu kita dan ibu sangat sayang sama Arisa. Ibu selalu tidak tega melihat keadaan Arisa.”
“Sabar Bu’. Semua ada hikmahnya.” Balas Ayah lagi sambil meninggalkan istrinya. “Ayah mau mandi dulu.”
Sementara Ibu Arisa masih termenung dan semakin dalam menatap Arisa yang masih terdiam di teras. Kuat keinginannya untuk mendekati Arisa, namun kuat pula kekhawatirannya jika nantinya Arisa merasa terganggu dan semakin sedih. Selesai membersihkan guci dan mengatur perabot rumah yang lain, Ibu Arisa menuju dapur dan menyiapkan sarapan untuk Ayah dan Arisa.
Arisa adalah seorang remaja yang tidak dapat berbicara, juga tidak dapat mendengarkan bunyi apapun di dunia ini. Arisa belajar mengetahui apa yang ada di sekitarnya melalui pandangan dan bahasa isyarat. Namun hal itu tidak membuat Arisa patah semangat untuk mendapatkan kebahagian yang dia percaya bisa dia dapatkan. Itu pula yang membuatnya bisa menyesuaikan diri dengan teman-temannya. Sekarang usia Arisa 21 tahun dan Arisa semakin mahir memainkan kuas lukisnya di atas kanvas. Itulah yang menjadi kegiatan sehari-hari Arisa.
Selesai makan siang, Arisa kembali duduk di teras sambil memandangi bunga anggrek yang tumbuh menumpang di salah satu pohon di depan rumahnya. Perlahan Arisa memandangi bunga anggrek itu dan senyum kecil mulai tersimpul di raut wajah manisnya. Dalam benaknya dia berkata alangkah mulianya anggrek itu. Bisa memberikan nuansa indah di tempat setinggi itu, tempat yang bahkan bisa membuatnya tertimpa hal buruk. Dalam keheningan Arisa mempersonifikasikan anggrek itu, tiba-tiba langit menjadi hitam dan mengeluarkan suara gemuruh yang dahsyat. Ibu Arisa keluar menghampiri Arisa dan menuntun Arisa masuk ke dalam rumah. Setelah duduk di sofa ruang tamu, Ibu Arisa menjelaskan kepada Arisa tentang suara petir yang sedang terjadi dengan bahasa isyarat. Arisa mengerti dan memeluk ibunya. Hujan akhirnya turun dengan deras. Beberapa saat kemudian, dari jendela Arisa memandang ke luar rumah tepat dimana anggrek itu tumbuh. Arisa melihat anggrek itu sudah tidak seindah dengan apa yang dia lihat tadi. Anggrek itu patah. Arisa berlari ke kamarnya, mengambil alat gambarnya dan menggambar anggrek malang itu dari jendela rumahnya.
Hari berikutnya, perasaan Arisa mulai membaik. Ibu Arisa akhirnya bahagia melihat anaknya. Setelah setiap sudut halaman rumahnya telah terlukis di atas kanvas, Arisa mulai rajin menggunakan sepedanya untuk mencari pemandangan indah di sekitar tempat tinggalnya. Dalam pencariannya, Arisa menemukan sebuah air terjun yang sangat indah. Air terjun itu membuat pandangannya membelalak saking kagumnya. Tangannya pun tak menyia-nyiakan pemandangan indah itu. Air terjun yang indah kembali terlukis di atas kanvasnya.
Lukisan indah kembali lahir dari tangan seorang gadis yang jauh lebih indah dari lukisan itu. Perlahan-lahan Arisa memandangi lukisannya dan tersenyum. Berjam-jam sudah Arisa berada di tempat itu. Menikmati setiap sentuhan udara sejuk yang terhempas dari air terjun itu. Indah, tenang dan bahagia menyelimuti raganya.
TAKDIR DAN DRAMA
Apa yang aku lihat dan apa yang aku rasa adalah sesuatu yang menambah daftar pertanyaan dalam hidupku.
Setelah aku melihat jarum jam bergerak, aku bertanya untuk apa dia bergerak, ku dapatkan jawabannya.Ketika ku tahu untuk apa dia bergerak, aku bertanya lagi,...
kenapa dia harus menunjukkan waktu, dan ku bertanya lagi mengapa waktu harus ditunjukan.
Sama seperti perasaan bahagia yang kadang saya rasakan,...
Apakah semua orang bisa mendapatkan kebahagiaan yang pernah saya dapatkan?
Kalau iya, apakah dia akan menjadi orang seperti aku, yang mencatat setiap kebahagiaan dan kembali menanyakaan apa yang selanjutnya terlihat.
Aku memulai hidup dengan mengenal beberapa orang yang mengatakan sayang dengan sangat lembut. Entahlah, aku tak tahu sedalam apa rasa yang dia simpan sampai air matanya menetes ketika melihat aku terbaring tanpa senyum seperti biasa. Aku melihatnya berjalan dengan penuh rasa cemas. Membawa benda yang sama sekali tidak aku tahu fungsinya. Pertanyaanku berhenti,... dan aku masih melihatnya dalam keadaan yang sama. Meneteskan air mata.
KAMPUS ORANGE
(PART 2)
Hari esok itu pun tiba. Malam sebelum hari itu, saya mempersiapkan semua kebutuhan untuk hari “P” itu. Sampai-sampai langkah saya bertumpu di Jalan Bung, Perintis Kemerdekaan hanya untuk mencari sebuah karung terigu. Dapat!, dan waktunya kembali untuk bertempur dengan awal dunia kampus setelah beberapa jam melepas kerisauan bersama teman-teman SMA yang memilih kuliah di tempat lain (UNHAS). Seperti saya, mereka juga mengalami hal yang sama, tapi mungkin tidak seberat apa yang saya rasakan, karena mereka terlihat baik-baik saja. Tanpa muka kusut, apalagi cacian kepada seniornya. Angkot menghantarkan saya kembali ke tempat peraduan mahasiswa (kos-kosan) bersama perasaan was-was yang belum hilang sempurna. Perlahan kaki yang masih butuh tempat-tempat seru di keramaian Makassar ini akhirnya mengeluh. Tapi tidak ada artinya karena pusat pengatur organ lain (otak) tetap ada dalam kondisi yang memprihatinkan, bekerja keras membayangkan bentuk penyiksaan selanjutnya. Perasaan ini semakin was-was. Ya, Tuhan, Belum lagi kerinduan bersama keluarga hilang, bayangan siksaan sudah hadir dalam fikiran ini. Saya tertidur pulas, benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Senior oh senior, . . .
Sebelum adzan berkumandang, saya terbangun. Kaget, benar-benar kaget. Sesegera mungkin saya memasuki kamar mandi dan mencoba mengembalikan jiwa saya yang sebenarnya masih ada beberapa persen tinggal bersama bantal.
“Ah!!!!!!!!” Keluhku saat mata saya mulai tergoda lagi untuk tertutup.
“Kampus! Kampus! Kampus!” Gumam ku seperti orang gila. Perlahan saya berjalan menuju kamar lagi dan bercermin untuk memastikan bahwa umur saya tidak terlihat bertambah 10 tahun karena peristiwa yang sudah dan yang akan saya alami, dan ternyata aman-aman saja. Saya masih terlihat seperti dulu dengan senyum yang manis yang mampu meluluhkan kemudian melantakkan hati wanita. Wkakakakakaka . . . . Memang seperti itu adanya. Waktu SMA, saking manisnya senyum ini, ada senior yang melarang saya tersenyum di depannya dengan alasan tidak sanggup untuk melepas senyum itu setelah melihatnya. Wadduh! Sungguh dramatis, tapi pasti realistis. Itulah yang membuat saya semakin percaya diri memasuki dunia kampus, dan itu pulalah yang mencelakakan saya didunia kampus karena para senior dengan mudah mengenali wajah saya. Bayangkan, ada senior yang masih mengingat kalau saya menjanjikan uang Rp 10.000,- saat melapor dihimpunan kepadanya dan itu membuat saya ditampar karena tidak memberikan uang itu. Jelas ditampar, orang waktu itu saya tidak bawa uang sama sekali. Buat jaga-jaga. Ehm, . . . Tapi selama ini yang saya tau, “jaga-jaga” itu artinya membawa uang lebih! Alasan saya tidak membawa uang karena takut dipalak sama senior dan untuk yang saya janji waktu itu, mana mungkin mereka mengingat wajah saya. Tapi, . . . .(kembali narsis), dengan pesona saya, dia tetap tahu kalau orang yang dia harap datang hari itu adalah saya. Sial! Hehehehe itu cuma yang ada difikiran saya. Difikiran mereka, tau’lah. Penting tidak???! Oh ya, saya masih di depan cermin. Perlahan dan semakin dalam saya memandangi wajah saya. Tiba-tiba saya kaget.
“Mati saya!!! Belum ada tanda Avatar dikepala saya. Gawat! Bisa-bisa disiksa sampai mati saya!!!” Dengan sangat panik, saya mengambil pilox, sisa pilox karung terigu yang saya gunakan kemarin, menggunting kertas berbentuk lambing avatar dan berlari menuju ke kamar lain di rumah tempat saya tinggal waktu itu. Oh iya, alamat saya waktu itu adalah Jl. Muhajirin 1 No. 10 dan itu adalah kos-kosan pertama saya. Saya tinggal bersama beberapa orang yang juga kuliah di UNM. Namanya Tika dan Sofi. Eh! Kenapa harus ada tanda Avatar??? Jawabannya! Karena kami akan mempelajari semua unsur-unsur alam.
Sebenarnya kos-kosan itu dulunya ditempati oleh perempuan, tapi karena mereka semua sudah terlalu senior dan sipemilik belum menemukan pengganti, untuk beberapa kamar yang kosong, akhirnya si Tika yang juga anak wali kelas saya waktu SMA menelpon saya dengan maksud agar saya tinggal ditempat itu. Saya yang sudah pusing mencari tempat tinggal akhirnya bisa bernafas lega. Maunya tinggal di rumah keluarga, tapi takutnya terikat, Mahasiswakan identik dengan kebebasan!
Pernah saya mendapat pengalaman lucu karena tempat tinggal. Nah saya cerita tentang tempat tinggal dulu yah sebelum cerita tentang kelanjutan kabur dari depan cermin. Ok?! Okelah. Dibaca ya . . . prak-prak-prak, ceritanya gimana-gimana. Hehehehehehehehehehe GARING! Okelah. Waktu itu, saya masih tinggal dirumah teman di Jl. Bung Perintis Kemerdekaan. Setelah sadar kalau waktu OSPEK sudah dekat, saya pun memutuskan untuk mencari tempat tinggal. Sekedar informasi MOTOR MATIC merk SP** itu ternyata borosnya minta ampun. Masa dari Perintis ke Malengkeri isi bensinnya sampai dua kali?! Parah! (Jelaslah Bang!!! Ujung pukul Ujung ko’!). Ya sudahlah, dari pada tidak dapat informasi OSPEK sama sekali. Akhirnya, dengan motor super boros itu (pendapat saya), sampailah saya di jalan Malengkeri, tempat FAK. MIPA berdiri. Wah, wah, wah, depan MIPA seperti pasar. Lapak-lapak tersusun seperti sandal di depan Mesjid. Dikata berantakan tidak, teratur apalagi. Cuma tersusun, tapi tidak rapi jadi malah menambah kacau wajah kampus. Itu dari segi estetika, tapi dari sisi lain, lapak-lapak itu jelas banyak manfaatnya. Terbayangkan kalau lapak itu tidak ada. Mahasiswa mau print, fotocopy yang mendadak dll dimana???! Yah, tugas pihak kampuslah. Eh! Ko’ jadi bahas lapak?!!! Nah setelah sampai dikampus, dapatlah saya informasi tentang OSPEK dari seseorang yang punya raut wajah yang sama seperti saya (maksudnya, . . . juga terlihat kaku dan takut karena pasti akan bernasib sama sebagai MABA). Setelah dapat informasi itu, akhirnya perjalanan dilanjutkan dengan mencari tempat tinggal atau kos-kosan yang sebenarnya rencana utama (maklumlah, takut tidur dijalan). Hehehehe. Dapat! Lumayan jauh dari kampus. Perlu naik Angkot untuk bisa sampai dengan tidak tepat waktu kalau berangkatnya jam 7 yang kuliahnya jam 7.30. Dengan bersemangat saya mencatat nomor telepon yang tercantum ditempat itu. Nomornya dapat, tapi saking senangnya, info lain saya tidak hiraukan. Saya bergegas meninggalkan tempat itu dan kembali ke rumah teman saya itu. Oh iya, waktu itu saya tidak sendiri. Saya ditemani oleh teman SMA saya yang juga pemilik rumah itu. Namanya Nikmah Fadilah yang sekarang kuliah di Fakultas Kedokteran UNHAS, Calon Dokter Gigi dan memang giginya lumayan bagus, anaknya lumayan pintar, cerewet, tapi entah kenapa saat itu dia tidak banyak bicara. Mungkin karena Jin yang pernah memasukinya saat SMA masih menyimpan semacam minyak Tokek dalam dirinya (hehehehe bercanda). Ah, sudahlah. Sekarang dia juga sudah lumayan baik.
Sesampainya di rumah, saya menelpon nomor yang tertera pada papan depan kos-kosan itu. Percakapan lancar dan tidak ada hambatan, meskipun awalnya agak ragu, karena belum ada tarif murah super heboh seperti sekarang. Meskipun simpanan masih banyak, tapi saya tetap hati-hati karena belum tahu apa yang terjadi saat dompet kosong di tempat seramai Makassar.
“ Halo . . . Selamat Siang, . . .” Saya membuka percakapan ditelepon saat itu.
“Selamat siang.” Jawab orang bersuara parau dari speker hape saya.
“Betul bapak pemilik kos-kosan di Malengkeri itu, di . . . (saya lupa alamat pastinya)”. Tanya saya was-was kehabisan pulsa.
“ Iya, benar. Kenapa?”
“Saya mau ambil satu kamar pak.”
“Oh iya, nanti kita ketemu. Tapi ade sudah lihat tempat itu, bla bla bla bla bla bla bla . . . . . . . .”
“Wadduh, ini orang nelpon atau ceramah ya?!” Fikir saya waktu itu. Maklum, takut pulsa abis (sudah berapakali maklumi masalah pulsa?)! Yang benar-benar saya dengar jelas saat percakapan itu adalah 2 juta pertahun. Okelah.
“Jadi, kapan saya bisa ketemu bapak. Saya juga belum lihat jelas kondisi kos-kosan bapak.”
“Ya sudah, besok kita ketemu ditempat itu dan kalau ade mau lihat duluan tempat itu, silahkan. Nanti bicara sama tukangnya saja.” Bapak itu menjelaskan.
“Iya, Makasih banyak Pak, Assalamu alaikum.”
“Waalaikum salam . . . “
“Ah, akhirnya . . . “ gumam saya dalam hati sambil bernafas lega setelah mengecek *888#. Ehm! Tau kan provider apa?!
Esok haripun tiba. Pagi-pagi sekali saya dan Nikmah ke tempat itu lagi. Saya pun kembali menelpon Bapak itu dan menyatakan bahwa saya sudah berada di tempat itu. Namun, berhubung bapak itu ada urusan lain lebih dulu, jadi saya memutuskan untuk melihat-lihat kos-kosan itu sebelum dia datang.
“Selamat pagi pak . . . “ Sapa saya pada tukang yang sedang mengerjakan lantai teras kos-kosan itu.
“Pagi dek. Ada apa?” Situkang bertanya dan saya pun melanjutkan melihat tempat itu setelah menjelaskan pecakapan saya dengan yang empunya kos-kosan kepada tukang itu. Lama saya melihat-lihat dan kemudian berkesimpulan.
“Wah, bersih ya pak.” Mulai saya lagi.
“Yah, namanya juga kos-kosan untuk cewek.”
“@#$%^%&%$%#$%*&$#@” saya bingung. Fikiran saya semaaaaaaaakin kacau. Wadduh!
“Ma . . . . ksudnya ini kos-kosan untuk cewek pak?” Saya berusaha memperjelas, sementara Nikmah tetap diam. Untunglah Nikmah ada.
“Iya, . . . mmang kenapa???” balas tukang.
“Ti . . . . . Tidak apa-apa pak. Ya sudah, . . .” Saya kemudian bergegas untuk pergi dari tempat itu. “Makasih ya pak.”
Dengan mengambil langkah seribu, saya bergegas keluar dari tempat itu dan buru-buru menstater motor, kemudian “ciuuuuuuung” motor melintas kecang menjauhi tempat itu. Diperjalanan pulang saya mendapat sms dari bapak itu.
From bapak kos
Bgaimn dek? Sy sdh dijlan
Dengan tidak ragu-ragu saya membalas sms itu.
Maaf pak, sy pkr itu kos-kosan cowok,
Saking jengkelnya, bapak itu membalas sms saya dengan sms kosong. Pelajaran dalam situasi ini adalah, . . . . . . . jangan terburu-buru. Hehehehehe. Malumlah. . . .
Lanjut dengan peristiwa depan cermin!!!!!! Wadduh! Saya semakin panik mengetuk-ngetuk pintu Atika.
“Kak Tika!” Teriak saya sambil sesekali mengeluh.
Lama panggilan tak terjawab itu dan membuat Sofi yang kamarnya berhadapan dengan kamar Tika terbangun lebih dulu.
“Ada apa Fan?”
“Maaf kak, saya merepotkan. Saya disuruh cat lambang Avatar di kepala, jadi saya mau minta tolong sama kakak. Mau yah?”
“Hah??????? Tapi . . . ” Jawabnya heran.
Tiba-tiba Atika bangun.
“Ada apa Fan?” Tanya Atika.
“Begini kak, . . . “ Sy berhenti berbicara karena Sofi mulai memperjelas maksud saya dan akhirnya, . . . dengan ragu-ragu mereka menyemprotkan pilox itu ke kepalaku mengikuti lambang Avatar yg sudah saya bentuk dari kertas.
“Waddu Fan!, senior kamu ada-ada saja.” Kata Atika sambil tertawa dan juga diikuti oleh tawa kecil Sofi. Hehehehehe, baru aku sadar, ternyata mereka manis.
Setelah selesai dengan lambang avatar itu, mereka juga membantu saya mewarnai wajah dengan warna merah hitam. Entah dari mana asal bahan pewarna itu, yang jelas wajah saya gatal saat itu. Itu pun belum mereka lakukan maksimal. Mungkin dalam benak mereka, sayang kalau wajah manis saya diperlakukan seperti itu, wkakakakakakaka . . .
Finish!!!!!! Muka oke, peralatan oke. Saya siap bertempur di medan OSPEK!!!
“Makasih yah kak” Kata saya tulus sebelum berangkat. Saya benar-benar berfikir di dalam hati, ternyata mereka yang memang manis, baik lagi.
to be continue . . .
CINTA DI DAUN TALAS
(PART 4)
. . . . dan mereka saling memandang dalam keheningan malam itu.
Lenny: "Aku hanya ragu pada keseriusan kamu Arman, . . . "
Arman: "Lenny, kalau menurut kamu cintaku hanya akan seperti air di daun talas, maka aku akan membuat kolam talas untuk kita, . . . Untuk menampung cinta kita."
to be continue . . .
. . . . dan mereka saling memandang dalam keheningan malam itu.
Lenny: "Aku hanya ragu pada keseriusan kamu Arman, . . . "
Arman: "Lenny, kalau menurut kamu cintaku hanya akan seperti air di daun talas, maka aku akan membuat kolam talas untuk kita, . . . Untuk menampung cinta kita."
to be continue . . .
HATI BIRU
Saat mendekati, . . .
adalah saat dimana keceriaan itu hadir.
Saat menjalani, . . .
adalah saat dimana dia atau mereka bebas dalam pikiran dan hati, dan saat itulah yang membutakan manusia akan bayang-bayang "kehilangan".
Menjauhlah saat kamu merasa tak yakin dengan apa yang kamu rasakan . . . karena hati bukanlah taruhan.
(PART 6)
adalah saat dimana keceriaan itu hadir.
Saat menjalani, . . .
adalah saat dimana dia atau mereka bebas dalam pikiran dan hati, dan saat itulah yang membutakan manusia akan bayang-bayang "kehilangan".
Menjauhlah saat kamu merasa tak yakin dengan apa yang kamu rasakan . . . karena hati bukanlah taruhan.
(PART 6)
Masih dalam penantian panjang Ima. Tak ada hal berarti selain perhatian yang diberikan Anto padanya. Tapi seperti apa arti perhatian itu?, bagi Ima dan Anto, apapun itu, jelasnya mereka bisa tersenyum saat mereka bersama. Tak sedikit orang yang ada dalam situasi ini akan memaksakan apa yang menjadi egonya, entah berusaha mempercepat apa yang dirasa bagi meraka adalah takdirnya atau bahkan berusaha melepas apa yang dirasa akan membuatnya melupakan apa yang sudah ada dan mendarah daging bersama kisahnya. Ketakutan itu pasti ada, entah ketakutan untuk berpisah atau bahkan ketakutan untuk mendapat kisah baru yang akan menjadi kabut bagi apa yang sudah mereka dan yang merebut tempat dalam hati mereka sehingga mereka yakini patut untuk diabadikan. Aneh, . . . seperti itulah kerasnya jiwa manusia.
Pagi itu, suasana cerah. Secerah hati Ima dan Anto. Tapi yakinlah, itu hanya sementara bagi mereka, karena bagaimanapun mereka pernah terikat kuat oleh masa lalu yang menyakitkan. Ima dengan rambutnya yang terurai indah sedang menyapu halaman rumah, sementara Anto baru selesai mandi. Maklumlah, hari libur sekolah menjadi surga baginya untuk menikmati bagian hidup yang lain.
”Pagi cantik . . . ” goda Anto pada Ima.
”Pagi Mas Anto.” jawab Ima dengan senyumnya.
Perasaan itu muncul lagi dalam benak Anto, namun Anto tetap tidak mau membawanya larut bercampur kegundahannya sepeninggal istri dan anaknya.
”Lho! Ini kan hari Minggu, ngapain nyapu sampai sampai serajin itu? Mending jalan-jalan ke tempat-tempat indah. Di sini kan banyak taman yang memerlukan kamu sebagai pengganti bunga yang layu.” goda Anto lagi.
”Mas Anto . . . ” Nada Ima merendah. ”Bukannya Ima menolak kebaikan Mas Anto yang selalu memuji Ima, tapi tolong Mas Anto pahami, kalau Ima . . . ” Ima terdiam.
”Kenapa Ima?” tanya Anto heran atas kalimat Ima.
”Ah, tidak apa-apa Mas.” Ima kembali pada sikap dan nada yang biasa, sambil melanjutkan menyapu halaman rumah, sementara Anto mendekati Ima dan menarik tangan Ima menuju tempat yang Ima tidak ketahui.
”Ayo!”
”Lho! Mas! Mau kemana???” tanya Ima bingung.
”Sudahlah! Nanti juga kamu tahu.” jawab Anto tanpa melepas tangan Ima.
Sekitar 30 menit melewati bukit, sampailah Anto dan Ima pada sebuah pemandangan indah dengan objek sebuah air terjun yang tinggi serta pohon-pohon hijau yang mengitarinya. Ima terdiam melihat keindahan itu, sementara Anto hanya memandangi wajah Ima yang terkagum-kagum dengan keindahan itu.
”Ima, . . .” Anto memulai dengan sangat pelan menyebut nama wanita itu.
Ima hanya memandang dengan tenang wajah Anto dan menunggu senyum dari orang yang mengajaknya melihat keindahan itu.
”Indah.” kata itu keluar dari mulut Ima setelah senyum kecil tergambar di wajah Anto.
”Tebing-tebing itu sebenarnya akan indah jika ditumbuhi bunga-bunga kecil yang berwarna cerah. Tebing-tebing itu pun akan lebih jelas keperkasaannya saat tidak ada yang menghalanginya. Tapi sadarkah kamu, bahwa air yang menemukan tempat untuk menghempaskan dirinya dibawah kaki-kaki tebing sudah lebih indah dengan warna putih dari air yang jatuh itu? Sama seperti manusia. Tak berarti tidak berada disisi orang-orang terkasih membuat kita menutup dan menghalangi indah insan lain.”
Kalimat-kalimat itu membuat Ima tertunduk dan merasa hening dalam riuhnya air yang jatuh terhempas pada kaki-kaki tebing itu. Kalimat-kalimat itu pula yang membuatnya menggenggam erat tangan orang yang membawanya pada keindahan itu.
”Mas Anto . . . ” gumam Ima seraya menyandarkan kepalanya di bahu Anto.
”Ima, . . . sekarang pun bayangan dia masih ada dalam benak saya, bahkan saat kamu bersandar pada bahu ini. Tapi, . . . tak ada yang perlu saya ragukan atas apa yang Kuasa tunjukkan. Semua itu tercatat rapi dalam catatan takdir saya dan saya tak berhak menghapusnya meski hanya pada sedikit bagian dari takdir itu.”
Suasan hening, kemudian Anto kembali berbicara.
”Jika kamu masih tetap memikirkan laki-laki itu, saya bersedia menjadi pendampingmu dalam kegalauan itu. Karena saya yakin bayangan isteri dan anak saya masih tetap ada dan juga tetap mendampingi kebersamaan kita dalam ketidakpastian ini. Saya tak yakin ini cinta, tapi saya tak yakin pula bahwa Tuhan salah memberi perasaan ini untuk bisa mendekap kamu dan takdir kamu.”
”Mas Anto, . . . Ima menjadi lemah setelah peristiwa-peristiwa itu, dan Ima semakin lemah saat ada dalam bayangan ketikpastian akan datangnya laki-laki itu. Tapi, . . . Ima terima sama seperti Mas Anto menerima takdir Mas Anto. Satu hal yang perlu Mas Anto ketahui, . . . bahwa perasaan ini bisa saja berubah saat kita berada atau bahkan hanya sedang mengingat kembali tentang apa yang kita pernah alami masing-masing.” balas Ima.
Keduanya saling berpandangan. Lama mereka dalam pandangan yang berarti itu, kemudian suasana terpecah oleh keinginan Anto untuk mencium kening Ima.
”Mas Anto . . . ” Ima menolak keinginan itu dan kembali kerumah dengan langkah-langkah yang berat meninggalkan Anto dikeindahan itu.
to be continue . . .
to be continue . . .