Wajahmu
Ingatkan Aku
by: Irfan Djoesmantho
Dua minggu setelah kematian Rama,
Anisa tetap mengunjungi makam kekasihnya itu. Tak terbayang sekalipun dibenak
Anisa untuk mencari pengganti Rama. Hari itu, Jumat 20 Januari 2012, Anisa
menyempatkan untuk berkunjung ke rumah calon mertuanya, dulu. Saat bayangan
kebahagiaan menghapirinya. Saat Rama melingkarkan cincin tunangan pada jari
manisnya.
“Anisa, Rama sudah tenang... dan
akan lebih bahagia saat kamu bisa mencari penggantinya.” Ibu Rama mencoba
menenangkan Anisa yang menangis sambil menatap salah satu foto Rama yang
tepajang di ruang tamu rumah itu.
“Maaf Bu,... Anisa tidak tahu
apakah itu benar-benar yang diinginkan Rama di sana.” Balas Anisa sambil
meninggalkan Ibu Rama yang akhirnya meneteskan air mata saat Anisa berbalik.
Langkah pelan Anisa membawanya
menuju makam Rama. Air matanya kembali menetes dan membasahi tanah yang
mengubur jasad orang yang sangat dia cintai. Perlahan, Anisa menyentuh nisan
yang bertuliskan nama kekasihnya. Tanggal yang tertulis adalah tanggal dimana
Rama merencanakan untuk melamarnya. Setelah menaburkan bungan dan mendoakan
ketenangan kekasihnya, Anisa meninggalkan tempat itu. Dalam langkah pelannya,
Anisa berhenti sejenak dan melihat seorang laki-laki yang sedang memandangi
sebuah nisan yang bertuliskan Kira. Tak sampai menit berganti, laki-laki itu
berdiri dan meninggalkan makam. Seperti mendengar suara langit yang bergemuruh,
bathin Anisa tersentak melihat garis dan bentuk wajah yang persis dengan Rama
pada laki-laki itu. Langkahnya yang sempat tertahan akhirnya lepas dan
mengikuti laki-laki itu. Tak sedetikpun pandangannya ia alihkan, sampai
laki-laki itu benar-benar hilang dari penglihatannya. Dalam hatinya berkata,
“bagaimana mungkin”.
Hari-hari setelah kejadian itu,
Anisa semakin kacau dan terus membayangkan wajah laki-laki itu. Entahlah,
perasaan apa yang ada di dalam benaknya. Hatinya sempat berkata bahwa laki-laki
itu datang diwaktu yang tepat, namun kehadiran laki-laki itu juga membuatnya
berada dalam dilema besar. Apakah itu sebuah kesedihan atau sebuah kebahagian
yang diatur lagi oleh Tuhan kepadanya. Satu minggu berlalu dari kejadian itu,
Anisa masih tidak bisa membedakan perasaan apa yang sebenarnya dia rasakan.
Laki-laki itu seperti mengisi jiwanya yang kosong setelah Rama diambil olehNya.
Mencoba menghilangkan apa yang dia rasakan setelah kejadian itu, Anisa ke salah
satu toko buku yang berada persis di dekat rumahnya. Kebetulan, toko buku itu
adalah milik Fitri, sahabatnya.
“Hai Nis, kamu kok ngelamun?” tanya
Fitri yang melihat Anisa menatap kosong pada salah satu sudut di toko buku itu,
tempat dimana dia pertama melihat Rama yang tersenyum padanya.
“Hmmm,” balas Anisa sambil
mengarahkan senyum kepada Fitri.
“Saya buatkan teh, mau?” tawar
Fitri yang kemudian masuk ke dapur setelah Anisa mengangguk menyutujui
tawarannya.
Setelah mengangguk dan
mengembalikan pandangannya ke salah satu sudut toko buku itu, bathinnya kembali
tersentak karena seseorang telah berdiri persis di tempat itu, dan orang itu
adalah laki-laki yang dia lihat beberapa hari yang lalu di pemakaman. Hasrat
Anisa mendekati laki-laki itu tidak terbendung lagi. Secepat itu dia persis
berada dihadapan laki-laki itu. Anisa memandang laki-laki itu sangat dalam dan
tak ragu dengan kemiripan yang Rama pada laki-laki itu. Perlahan bibir Anisa
bergerak dan menyebutkan nama “Rama” dengan nada yang parau. Laki-laki itu
terkejut dan mencoba memahami situasi itu.
“Maaf, nama saya Rio, bukan Rama.”
Balas laki-laki itu.
“Rama...” sekali lagi Anisa
menyebut nama itu.
Laki-laki itu akhirnya pergi dan
meninggalkan Anisa yang kembali meneteskan air mata. Fitri yang membawa 2
cangkir teh akhirnya menghampiri Anisa setelah meletakkan cangkir-cangkir itu
di meja Anisa.
“Nis,... ” Fitri membelai rambut
sahabatnya itu dan membiarkan Anisa menyandarkan kepala di pundaknya.
Anisa masih tak bisa menahan air
matanya. Sementara itu, Fitri masih berusaha menenangkan Anisa. Dalam situasi
itu, tiba-tiba laki-laki itu datang dan membawa sebuah buku diary dengan
bersampul foto Anisa dan Rama.
“Maaf, saya rasa anda menjatuhkan
ini.” Kata laki-laki itu sambil menyerahkan diary itu kepada Anisa yang masih
tertunduk di pundak Fitri. Fitri juga terkejut melihat laki-laki itu. Laki-laki
itu memang persis dengan Rama. Anisa mengangkat kepalanya dari pundak Firi
setelah mendengar Fitri menyebut nama Rama dalam kebingungannya.
Anisa membersihkan air matanya dan
tiba-tiba memeluk laki-laki itu. Laki-laki itu semakin terkejut dan mencoba
mencari jawaban di wajah Fitri. Raut wajah Fitri yang masih memperlihatkan
kebingungannya, kemudian memberi isyarat kepada laki-laki itu untuk membiarkan
sejenak Anisa memeluknya. Laki-laki itu paham, dan terdiam di dalam pelukan
Anisa. Selang beberapa menit, Anisa melepaskan pelukannya dan berlari
meninggalkan tempat itu setelah menampar laki-laki yang tadi ada di dalam
pelukannya.
Tamparan Anisa membuat laki-laki
itu sedikit marah, namun Fitri berhasil menenangkannya setelah berbicara
panjang lebar tentang apa yang dialami Anisa sebelumnya. Beruntunglah laki-laki
itu akhirnya bisa meredam emosinya, bahkan sempat tersenyum saat Fitri
mengatakan bahwa dia sangat mirip dengan Rama.
Hari berikutnya, Anisa kembali ke
toko buku dan berharap bertemu laki-laki itu, agar bisa meminta maaf atas apa
yang dia lakukan kemarin. Benar saja, tak lama menunggu laki-laki itu datang
dan langsung menghampiri Anisa.
“Maaf kalau kehadiran saya, membuat
perasaan kamu semakin tidak jelas.” kata laki-laki itu sambil duduk persis di hadapan
Anisa.
“Saya yang seharusnya minta maaf.”
Balas Anisa yang terbata-bata menyampaikan kalimat itu.
“Rio.” Kata laki-laki itu sambil
mengarahkan tangannya kepada Anisa.
“Iya, saya tahu.” balas Anisa
tersenyum, sambil menjabat tangan Rio.
“Saya turut prihatin.”
“Terima kasih.” Balas Anisa yang
kemudian memandangi cincin di jari manis Rio.
“Kamu sudah tunangan?” tanya Anisa.
Rio diam dan mencoba mencairkan
suasana.
“Eh, mau tidak jalan-jalan ke
taman?” tanya Rio lagi tanpa menjawab pertanyaan Anisa.
“Hmm, boleh.” Anisa mengiyakan, dan
mereka beranja dari toko buku itu.
Firi yang menyaksikan percakapan
mereka hanya tersenyum bahagia, berharap Rio adalah jawaban untuk apa yang
sahabatnya alami.
“Oh iya, tadi pertanyaan saya belum
kamu jawab. Kamu sudah tunangan?” tanya Anisa lagi.
“Iya, tapi tunangan saya pergi.
Saya juga tidak yakin dia akan kembali.” Jawab Rio setelah menarik nafas
dalam-dalam saat berjalan menuju taman.
“Memangnya tunangan kamu kemana?”
tanya Anisa lagi sambil berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah Rio yang
lebih cepat.
Rio berbalik dan berhadapan persis
dengan Anisa.
“Pergi ke tempat yang abadi.” Jawab
Rio sambil tersenyum dengan mata yang terlihat kosong.
“Maaf, bukan maksud saya untuk ....”
balas Anisa.
“Tidak apa-apa.” Rio kembali
berbicara dan memegang erat pundak Anisa.
----------------------------------------------
Beberapa minggu berlalu setelah
pertemuan mereka. Anisa meyakinkan dirinya untuk mengatakan apa yang dia
rasakan. Mencoba memutuskan apa arti dari pertemuannya dengan Rio. Mereka
kembali bertemu di taman.
“Rio, sekuat apa cintamu terhadap
Kira?” tanya Anisa.
“Hmmm, isi bumi ini mungkin tidak
akan bisa menggantikan posisinya di mata saya.” Balas Rio tersenyum sambil
meninggalkan Anisa.
Pertemuan singkat itu memberi
jawaban berarti pada Anisa. Pada sebuah surat yang dititipkan Rio untuk Anisa
lewat Fitri, untuk apa yang Anisa rasakan, terjawab dengan jelas.
Anisa,...
kita
bukan tokoh dalam sebuah novel dengan kisah berliku dan akhir yang bahagia.
Saya
tahu jelas apa yang kamu rasakan,...
tentang
wajah saya yang mengingatkan mu pada kekasihmu,...
tentang
kisah kita yang sama,...
dan
tentang apa yang akan kamu rasakan setelah pertemuan kita.
Aku
Rio, sampai kapanpun tetap Rio,...
....dan
bukan Rama saat kamu menginginkan Rama.
Kalaupun
takdir berniat menyatukan kita,...
saya akan tetap melihat kamu sebagai Anisa,
dan
saya tetap merasakan Kira sebagai Kira.
Maaf,...
Beautiful
Costumer Service
by: Irfan Djoesmantho
“Kring,
kring, kring”, jam weker berbunyi keras dan membangunkan Andra dari mimpi
indahnya.
“Aghhh!!!”
teriak Andra sambil berusaha mematikan jam weker yang masih berbunyi itu.
”Plak!!!”
sebuah buku yang masih dalam genggamannya sejak semalam menjadi senjata untuk menghentikan
bunyi jam wekernya. Hancur berantakan, dengan baterai yang terlempar jauh dari mesin
wekernya dan Andra kembali tertidur pulas. Bagaimana tidak, matanya baru
terpejam sekitar pukul 3 dini hari, dan bukannya karena baca buku, tapi karena
menonton Film terbaru Transformers. Terus, buku yang dipegang buat apa? Buat
ngipasin badannya yang kepanasan, soalnya AC kamarnya rusak dan kipas anginnya
juga ikut-ikutan rusak. Kok bisa bersamaan??? Atau mungkin lagi hemat listrik. Hah!
Itu urusan Andra. Hahahaha.
Andra,
seorang manusia yang baru meratapi dunia pengangguran. Yah, Andra baru saja
menyelesaikan studinya di salah satu perguruan tinggi swasta di Makassar dan
dia benar-benar kebingungan mencari pekerjaan. Alasanya, tidak ada pekerjaan
yang menjanjikan gaji tinggi untuk pemula. Hehehehe. Iyalah, namanya juga
pemula. Andra juga masih tinggal di rumah kontrakannya, persis di samping
kampusnya.
Lewat
pukul 12 Andra terbangun. Entahlah, bangun karena apa. Sudah capek tidur
mungkin ya? Tapi, kebanyakan orang kalau baru bangun tidur, pasti bawaannya
lemas. Nah Andra malah senyum-senyum hampir cengengesan. Ada apa ya? Oh,
tenyata bukan ringtone handphone yang bunyi, tapi suara perutnya yang
kelaparan. Ngetawain diri sendiri jadinya. Dengan langkah seribu Andra
memeriksa isi kulkasnya, dan.......“Anda harus melakukan pengisian ulang
kulkas.” Kalimat itulah yang langsung terbayang dalam kepalanya setelah melihat
kulkasnya hanya berisi air putih dalam botol mineral. Kasihan. Andra tidak
kehabisan akal, buru-buru dia periksa dompetnya, berharap lembar merah masih
terselip di situ. Tapi,... lembar merah si iya, tapi lembar merahnya hanya
dengan angka nol empat digit.
“Yah!
Rp.10.000,-. Buat nanti malam?! Mana motor sudah hampir kehabisan bensin. Ah!
Bodo’, yang penting sekarang harus makan!”
Berakhirlah
kisah kelaparan itu pada sebuah warung kecil milik tetangganya. Dalam
perjalanan pulang, Andra kembali khawatir dengan nasibnya nanti malam.
“Nanti
malam makan apa coba’?! Aghh!!!” gumamnya kesal sambil meremas-remas dompetnya
sampai terdengar bunyi “plak”. Andra diam dan buru-buru mengecek apa gerangan
yang patah dalam dompetnya.
“Adduh!!!
Sial!” Teriak Andra setelah melihat kartu ATMnya patah.
Dalam
situasi sialnya, handphonenya bunyi dengan nada dering perut yang minta diisi
alias bunyi perut orang lapar. Pantesan tadi waktu bangun dan dengar bunyi yang
sama langsung senyum-senyum cengengesan tidak jelas. Buru-buru dia ambil
handphone dari saku celana sebelah kanannya.
“Hah!!!
Mama!” Andra langsung menekan perintah “Accept”.
“Andra,
kamu sudah bangun?” tanya Mamanya.
“Iya
Ma.” Jawab Andra.
“Sudah
makan?”
“Baru
saja Ma. Kenapa Ma?” tanya Andra.
“Tadi
Papa kamu mau nelpon, tapi jadi malas karena kamu sering tidak angkat.
Kebiasaan bangun telatnya rubah dikitlah. Kamu kan sudah Sarjana, masa’
bangunnya harus siang terus. Bagaimana bisa kerja!”
“Iya
Ma.” Balas Andra. “Terus, Papa mana?”
“Lagi
di kantor kan?! Ini kan masih jam kerja.” Balas Mamanya.
“Oh.
Iya. Andra lupa Ma.”
“Oh
iya, tadi kata Papa, dia transfer uang ke rekening kamu. Katanya kamu kan belum
kerja sama sekali, jadi kalau tidak dikasih uang, nanti bisa-bisa nyuri.”
“Ah!
Mama apa-apaan. Tidak mungkinlah. Andra kan anak baik-baik. Hehehehe, Ma,...
ditransfer berapa memangnya Ma?”
“1
Milyar!!!” balas Mama Andra sedikit dengan nada keras.
“Hehehehe,
maaf Ma.” Sela Andra sambil cengengesan dan berusaha menurunkan nada bicara
mamanya.
“Kamu
sih, tanya-tanya jumlah uangnya. Kamu kan tidak punya kebutuhan lain lagi
selain makan.” Balas mamanya yang mulai merendahkan suaranya.
“Ya
sudah Ma, makasih ya. Salam buat Papa. Andra janji bangun lebih pagi, biar
Andra yang ganti ayam berkokok kalau pagi. Hehehehe.”
“Hus!!!
Ada-ada saja. Ya sudah.”
“Ma,
salam buat ade’ Kiki juga ya.”
“Iya,
dia juga nuntut gaji pertama kamu!”
“Hah!”
Andra kaget dengan kalimat terakhir, apalagi pas dengan nada “tuut . . . tuut .
. .” telepon terputus.
Dalam
perjalanan kembali ke rumah kontrakannya, Andra terlihat sangat senang. Tanpa perlu
berlama-lama di rumah kontrakannya, Andra langsung men-stater motornya dan bruuuum,
sampailah di salah satu mesin ATM terdekat. Andra langsung membuka dompetnya
dan tersadar bahwa kartu ATM nya sudah berantakan.
“Ya
Tuhan, . . . kenapa baru sadar sekarang. Artinya harus ke Bank.”
Perjalanan
dilanjutkan ke Bank. Dalam hitungan menit, Bank di depan mata.
“Selamat
siang Pak!” sapa Satpam Bank.
“Siang.”
“CS
atau Teller pak?”
“Teller
Pak.” Jawab Andra dan kemudian Andra menerima nomor antrian. “Terima kasih
Pak.”
Andra
kemudian duduk di kursi antrian setelah mendapatkan nomor antrian 135, dan
sekarang teller masih melayani nomor antrian 121. Artinya, Andra masih harus
menunggu 13 orang dilayani oleh teller sebelum dia. Tiga belas, angka sial
bukan tu? Lumayan lama Andra menunggu, sementara matanya masih memandang ke sana
sini dan belum menemukan titik fokus. Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada
seorang costumer servise yang sedang melayani nasabah lain. Hah!, senyum-senyum
hampir cengengesan kembali muncul di wajahnya. Pantesan, costumer service itu
memang cantik. Hampir mirip Asmiranda dan terlihat masih muda. Lama Andra memandangi
costumer service itu dan sepertinya Andra benar-benar tertarik bahkan nyaris
jatuh cinta kepada costumer service itu. Tiba-tiba terdengar panggilan yang
berasal dari teller.
“Sekali
lagi, nomor antrian 135 agar segera ke teller.” Dengan nada yang sedikit
berbeda dari panggilan pertama.
Andra
sadar dan buru-buru menghadap ke teller dengan membawa blanko penarikan tunai
yang belum terisi.
“Silahkan
isi dulu blanko penarikan tunainya Pak” pinta teller yang sedang berhadapan
dengannya.
“Oh
iya Mba’, . . . Maaf. ” balas Andra
pasrah sambil mengisi blanko transaksi penarikan tunainya. “Ini Mba’” sambil
menyerahkan blanko transaksinya.
Transaksi
selesai dan sekarang Andra memegang uang tunai sebesar 1 juta rupiah. Andra
sudah tahu kalau mamanya bercanda. Kalau mamanya bilang Macan, pasti maksudnya
Kucing, jadi pas mengisi blanko penarikan tunai, Andra sudah tahu kalau 1 M itu
adalah 1 juta. Bagus juga cara bercanda Mamanya. Masih di Bank itu, Andra juga
masih ragu meninggalkan tempat Bank karena custumer service cantik yang sudah
menyita perhatiannya. Tanpa berfikir panjang, Andra duduk lagi di kursi antrian.
“Silahkan
ambil nomor antrian dulu Pak.” Andra lumayan terkejut, karena satpam datang
dari arah belakangnya.
“Tapi,...”
Andra bingung, untuk apa dia berurusan sama costumer servise.
“Kenapa
Pak?” tanya satpam lagi.
Seketika
itu pula, sel-sel otaknya terhubung lancar dan langsung mengingatkannya memori
kartu ATM nya yang patah.
“Oh
iya Pak terima kasih.” Balas Andra sambil menuju tempat pengambilan nomor
antrian. Senyum-senyum hampir cengengesan masih melekat kuat. Entahlah.
Sekarang
nomor antrian 134 dan yang sementara dilayani oleh costumer service adalah
nomor antrian 131, 132 dan 133. Artinya Andra menunggu salah satu diantara
mereka. Nomor antrian 132 selesai dan nomor antrian 134 dipanggil oleh custumer
service.
“Ada
yang bisa kami bantu Pak?” tanya costumer service yang namanya tepampang jelas
di dada sebelah kirinya. Anisa.
“Iya
Mba’. Begini . . . ” Andra gugup dengan senyum-senyum tidak jelasnya.
“Kenapa
Pak?” tanya Anisa yang sepertinya sedikit penasaran dengan ketidakjelasan
Andra.
“Katu
ATM saya patah mba’ dan saya berniat mendapatkan yang baru.”
“Oh
iya. Silahkan mengisi identitasnya Pak, dan Bapak bisa kembali besok untuk
mengambil kartu ATM Bapak yang baru. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini Pak,
karena kantor akan tutup beberapa saat lagi.”
“Baiklah,
terima kasih Anisa. Eh maaf . . . terima kasih Mba’.”
Andra
pun kembali dengan wajah khasnya. Apalagi hari ini memang hari baiknya. Semua
berakhir dengan baik. Uang di tangan dan bertemu costumer cantik.
Hari
esok tiba dan Andra sengaja datang di waktu persis seperti kemarin. Dalam
benaknya, agar dia tidak kelamaan menunggu Anisa sampai jam pulangnya. Yah,
kartu ATM sudah di tangan dan Andra masih menunggu Anisa keluar dari Bank itu.
Dalam fikirannya, mudah-mudahan nanti dia bisa menjemput Anisa dan mengantar
Anisa pulang ke rumahnya. Lama juga ternyata Andra menunggu, tapi tetap sabar
karena harapannya yang begiu manis.
Anisa
pun keluar dari dalam kantor itu sambil berbicara via telepon. Setelah sampai
di parkiran, Anisa terlihat menutup telepon dan memandang salah seorang pria
yang turun dari salah satu mobil mewah yang terparkir. Pria itu mendekati Anisa
dengan seorang balita yang berteriak “Mama” kepada Anisa. Ternyata pria
tersebut adalah suami Anisa dan anak itu adalah anak Anisa.
Andra
diam melihat pemandangan itu. Hatinya pasti terluka.
“Ah,
Transformers 3 belum aku tonton sampai selesai. Sebaiknya aku selesaikan.”
Gumamnya pelan sambil men-stater motornya dan melaju dengan kecepatan yang
mencerminkan orang yang putus asa.
Sekian.
SILENT
LOVE
By: Irfan Djoesmantho
Pagi
yang cerah seperti biasa, namun Arisa tetap terlihat murung sambil duduk di
sebuah kursi kecil yang berada di teras depan rumahnya. Ini adalah hari pertamanya
berada di kota Bandung, karena Ayahnya dipindah tugaskan. Sementara ibunya
masih sibuk membenahi perabotan di rumah mereka yang baru, sambil sesekali
memandangi Arisa.
“Pa,
sebenarnya Ibu kasihan sama Arisa. Sepertinya Arisa benar-benar sedih
meninggalkan sahabat-sahabatnya.” Kata Ibu Arisa kepada suaminya yang sedang
asik membaca koran di sofa yang tepat berada sampingnya.
“Sudahlah
Bu’. Arisa kan sudah besar. Jadi Ayah pikir, dia sudah bisa menangani masalah
hatinya.” Balas Ayah kepada Ibu Arisa yang kemudian mengambil posisi duduk di
samping suaminya sambil tetap membersihkan guci kecil yang masih ada
digenggamannya dengan sebuah kain lap berwarna merah.
Arisa
adalah seorang remaja yang tidak dapat berbicara, juga tidak dapat mendengarkan
bunyi apapun di dunia ini. Arisa belajar mengetahui apa yang ada di sekitarnya
melalui pandangan dan bahasa isyarat. Namun hal itu tidak membuat Arisa patah
semangat untuk mendapatkan kebahagian yang dia percaya bisa dia dapatkan. Itu
pula yang membuatnya bisa menyesuaikan diri dengan teman-temannya. Sekarang
usia Arisa 21 tahun dan Arisa semakin mahir memainkan kuas lukisnya di atas
kanvas. Itulah yang menjadi kegiatan sehari-hari Arisa.
Selesai
makan siang, Arisa kembali duduk di teras sambil memandangi bunga anggrek yang
tumbuh menumpang di salah satu pohon di depan rumahnya. Perlahan Arisa
memandangi bunga anggrek itu dan senyum kecil mulai tersimpul di raut wajah
manisnya. Dalam benaknya dia berkata alangkah mulianya anggrek itu. Bisa memberikan
nuansa indah di tempat setinggi itu, tempat yang bahkan bisa membuatnya
tertimpa hal buruk. Dalam keheningan Arisa mempersonifikasikan anggrek itu,
tiba-tiba langit menjadi hitam dan mengeluarkan suara gemuruh yang dahsyat. Ibu
Arisa keluar menghampiri Arisa dan menuntun Arisa masuk ke dalam rumah. Setelah
duduk di sofa ruang tamu, Ibu Arisa menjelaskan kepada Arisa tentang suara
petir yang sedang terjadi dengan bahasa isyarat. Arisa mengerti dan memeluk
ibunya. Hujan akhirnya turun dengan deras. Beberapa saat kemudian, dari jendela
Arisa memandang ke luar rumah tepat dimana anggrek itu tumbuh. Arisa melihat
anggrek itu sudah tidak seindah dengan apa yang dia lihat tadi. Anggrek itu
patah. Arisa berlari ke kamarnya, mengambil alat gambarnya dan menggambar
anggrek malang itu dari jendela rumahnya.
Hari
berikutnya, perasaan Arisa mulai membaik. Ibu Arisa akhirnya bahagia melihat
anaknya. Setelah setiap sudut halaman rumahnya telah terlukis di atas kanvas,
Arisa mulai rajin menggunakan sepedanya untuk mencari pemandangan indah di
sekitar tempat tinggalnya. Dalam pencariannya, Arisa menemukan sebuah air
terjun yang sangat indah. Air terjun itu membuat pandangannya membelalak saking
kagumnya. Tangannya pun tak menyia-nyiakan pemandangan indah itu. Air terjun
yang indah kembali terlukis di atas kanvasnya. Setelah menyelesaikan lukisannya,
tiba-tiba seorang laki-laki seusianya datang dari arah belakang Arisa.
“Indah.”
Laki-laki itu memuji lukisan Arisa sambil menyentuh lukisan itu.
Arisa
kaget melihat tangan seseorang yang menyentuh lukisannya. Gerakan tangan itu
terlihat seperti sangat mengagumi lukisan Arisa. Sontak Arisa kaget dan memandangi
laki-laki yang membawa kamera itu.
“Maaf.”
Kata laki-laki itu lagi sambil menarik tangannya dari lukisan Arisa.
Laki-laki
itu tersenyum ke arah Arisa dan membuat Arisa merasa sedikit lega, sehingga
Arisa mampu membalas senyum laki-laki itu. Laki-laki itu memperkenalkan dirinya
kepada Arisa.
“Arman.”
Kata laki-laki itu lagi, sambil mengarahkan tangannya dengan maksud menjabat
tangan Arisa.
Arisa
menyambut tangan itu dan terus memandang laki-laki itu. Mata Arisa sempat
tertuju pada identitas yang tergantung pada leher laki-laki itu. Pada identitas
itu tertulis nama dan pekerjaan laki-laki itu. Laki-laki itu bekerja sebagai
seorang jurnalis di salah satu media cetak lokal di Bandung. Laki-laki itu
mengulang namanya dan membuat Arisa mengangguk dan tersenyum kembali. Arisa
paham apa yang keluar dari bibir Arman. Arisa menunjuk nama pada lukisannya dan
Arman mengerti bahwa gadis itu bernama Arisa. Arman kembali memuji lukisan itu.
Setelah berulang kali memuji lukisan itu, Arman memperlihatkan hasil fotonya
kepada Arisa dan Arisa kembali mengarahkan senyumnya kepada Arman. Tiba-tiba
langit mendung dan Arisa tersadar oleh situasi itu. Dengan cepat dia
membereskan alat lukisnya, mengayuh sepedanya dan meninggalkan tempat itu.
Arman yang tersadar bahwa Arisa lupa membawa lukisannya, terus mengejar dan
berteriak mengejar Arisa, tapi Arisa tidak menoleh lagi ke arah Arman. Setibanya
di rumah, Arisa tersadar bahwa dia lupa membawa pulang lukisannya. Arisa
sedikit merasa kecewa dan mengurungkan niatnya untuk kembali mengambil lukisan
itu karena hujan yang sudah mulai deras. Namun, di balik kekecewaannya, Arisa
menyimpan perasaan senang karena Arman telah memuji lukisannya. Berkali-kali Arisa
tersenyum saat wajah Arman juga berkali-kali hadir dibenaknya.
Keesokan
harinya, Arisa kembali untuk melihat air terjun itu. Arisa cukup kaget ketika
melihat lukisannya tidak ada lagi di tempat itu. Berkali-kali matanya memandang
tiap sudut tempat itu, tapi tetap tidak melihat lukisannya. Akhirnya dia duduk
di salah satu bongkahan batu yang berada persis di hadapan air terjun itu.
Arisa menikmati setiap percikan lembut air yang perlahan-lahan membasahi
wajahnya. Arisa benar-benar merasakan kedamaian di tempat itu. Setelah merasa
cukup puas dengan keindahan yang berada di depannya, Arisa beranjak dari bongkahan
batu itu. Saat dia berbalik, Arisa melihat Arman yang tersenyum sambil memegang
lukisannya. Arisa pun mempercepat langkahnya mendekati Arman yang masih
tersenyum kepadanya. Arisa mengambil dan memandangi lukisan itu. Arisa kembali
tersenyum saat melihat lukisannya baik-baik saja. Arisa menundukan kepala
setelah menahan lama senyumnya untuk Arman. Arman paham bahwa Arisa telah
berterima kasih kepadanya. Mereka akhirnya beranjak dari tempat itu. Dalam
perjalanan pulang, Arman mendorong sepeda Arisa dan Arisa yang memegangi
lukisan dengan langkah-langkah kecil di samping Arman semakin sering berbalik
ke arah Arman dengan tersenyum. Arisa terlihat sangat bahagia.
Setelah
sampai di depan pagar rumah Arisa, Arman memarkir sepeda Arisa dan mengucapkan selamat
tinggal setelah melepaskan senyum kepada Arisa. Senyum Arman kembali terbalas
oleh Arisa dan semakin membuat Arman tak bisa memikirkan hal lain selain senyum
indah itu. Dalam fikiran Arman, Arisa benar-benar seperti bidadari yang dia temukan
di air terjun yang indah itu dan dia semakin tidak bisa memungkiri bahwa dia
mencintai Arisa sejak pandangan pertamanya.
Arisa
berlari ke dalam rumah dan langsung berdiam diri di dalam kamarnya. Arisa
terlihat tetap tersenyum bahkan sampai nyanyian hewan malam mulai mengitari
rumahnya. Berkali-kali dia pandangi lukisan air terjun yang sudah dipajang di
dekat jendela kamarnya. Berkali-kali pula dia tersenyum dan mendekati lukisan
itu. Saat matanya benar-benar memandang tajam setiap sentuhan kuas lukis pada
lukisannya itu, Arisa menemukan kalimat yang asing baginya dalam lukisan itu.
Perlahan dia mengamati tulisan dalam lukisannya dan raganya seperti melayang
saat mengetahui bahwa tepat di bawah namanya di lukisan itu terdapat tulisan
kecil “I LOVE YOU”. Tulisan itu membuatnya merasa sangat senang, namun di balik
kesenangannya, Arisa berfikir apakah seorang yang tidak bisa berbicara dan
mendengar sepertinya bisa mendapatkan cinta dari orang yang normal seperti
Arman, dan apakah Arman tetap mencintainya jika Arman sadar kalau dirinya berbeda
dengan gadis lainnya. Sampai bunyi hewan malam berganti kicauan burung di pagi
hari Arisa tetap berfikir di atas bayang-bayang kesenangannya. Arisa tersadar kalau
malam telah berganti pagi setelah melihat cahaya matahari yang mulai menembus
jendela kamarnya. Arisa berlari keluar kamar dan mencari ibunya. Setelah
melihat ibunya sedang menyiram tanaman di halaman rumah, Arisa memeluk erat ibunya
dari arah belakang. Arisa menjelaskan kepada ibunya bahasa isyarat, tentang
perasaannya dan apakah mungkin ada laki-laki yang mencintainya dengan
keterbatasan yang dia miliki. Tanpa Arisa sadari ternyata Arman telah mengamati
Arisa dan ibunya. Arman kaget dan akhirnya mengerti mengapa Arisa tidak berkata
apa-apa sejak awal pertemuan mereka. Arman kemudian mendekati Arisa dengan
langkah-langkah gugupnya. Arisa kaget saat menyadari bahwa Arman telah berada persis
di dekat mereka. Arisa bingung harus berbuat apa.
Arman
dan Arisa saling menatap tajam dan perlahan Arman mengatakan “I Love You”
dengan bahasa isyarat kepada Arisa. Arisa berbalik memandang ibunya yang ikut
terharu. Ibunya mengangguk. Arisa mendekat kemudian memeluk Arman. Cinta Arman
kepada Arisa ternyata tidak terpengaruh oleh keterbatasan Arisa. Arisa semakin
bahagia karena kehadiran Arman. Orang tua Arisa juga semakin bahagia melihat anaknya.
Cinta tanpa kata akhirnya mengikat mereka dalam kebahagiaan.
My Beauty Honey
Seperti biasa, saat waktu luang, tidak ada kuliah, ada saja hal-hal bodoh yang saya lakukan. Suasana yang penat, ditambah suhu yang panas dan kebosanan tingkat tinggi membuat saya benar-benar gerah. Akhirnya, kuputuskan untuk men-dial nomor CS salah satu provider. Lumayan lah, buat ngisi waktu 15 menit. Hehehehehe. Dengan cepat saya menekan tombol di HP, daaaaaan akhirnya tersambung juga.
"Te***** selamat siang, Ada yang bisa kami bantu?" Suara itu dengan indahnya keluar dari speker HP saya.
"Wadduh, Indah betul suaranya." Gumam saya dalam hati sambil memandangi sekian detik HP saya.
"Selamat siang . . . dengan siapa saya berbicara?" Pertanyaan kedua kembali keluar dari speker.
"Siang . . . Saya Irfan." Saya mulai angkat bicara.
"Selamat siang Bapak Irfan. Ada yang bisa kami bantu Pak???"
. . . . . . . . to be continue